Friday, 11 November 2016

Kali ini kita akan membahas tentang Serangan Kerajaan Aceh terhadap Portugis. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Serangan Kerajaan Aceh terhadap Portugis

Sejak kedatangan orang Portugis di Malaka pada tahun 1511, telah terjadi persaingan yang berbuntut permusuhan antara Portugis dan Kesultanan Aceh. Sultan Aceh pada waktu itu diperintah oleh Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528), menganggap bahwa orang Portugis merupakan saingan dalam politik, ekonomi, dan penyebaran agama. Untuk itulah, Kesultanan Aceh tetap pada pendiriannya, bahwa Portugis harus segera diusir dari Malaka. Itulah sebabnya, ketika terjadi penyerangan Kerajaan Demak ke Malaka, Aceh membantunya dengan sekuat tenaga.

Serangan Kerajaan Aceh terhadap Portugis
Sultan Iskandar Muda
Sejak Kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636), perjuangan mengusir Portugis mencapai puncaknya. Untuk mencapai tujuannya, Sultan Iskandar Muda menempuh beberapa cara untuk melumpuhkan kekuatan Portugis, seperti blokade perdagangan. Sultan Aceh melarang daerah-daerah yang dikuasai Aceh menjual lada dan timah kepada Portugis. Cara ini dimaksudkan agar kekuatan Portugis benar-benar lumpuh, karena tidak memiliki barang yang harus dijual di Eropa. Upaya ini ternyata tidak berhasil sepenuhnya, sebab raja-raja kecil yang merasa membutuhkan uang secara sembunyi-sembunyi menjual barang dagangannya kepada Portugis.

Gagal dengan taktik blokade ekonomi, Sultan Iskandar Muda menyerang kedudukan Portugis di Malaka pada tahun 1629. Seluruh kekuatan tentara Aceh dikerahkan. Namun, upaya itu mengalami kegagalan. Pasukan Kesultanan Aceh dapat di pukul mundur oleh pasukan Portugis.

Sumber : IPS Terpadu - SMP Kelas VIII

Kali ini kita akan membahas tentang Serangan Kerajaan Demak pada Portugis di Malaka. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Serangan Kerajaan Demak pada Portugis di Malaka

Dikuasainya Malaka pada tahun 1511 oleh orang-orang Portugis adalah ancaman tersendiri untuk Kerajaan Demak. Ketika itu, Demak sebagai kerajaan Islam dan kerajaan maritim sedang mengembangkan kekuasaan dan menyebarkan Islam di pelosok nusantara. Karena itu, sejak hadirnya orang-orang Portugis di Malaka, maka Kerajaan Demak bertekad mengusirnya.

Pada tahun 1512, Kerajaan Demak di bawah pimpinan Pati Unus (Pangeran Sabrang Lor) dengan pertolongan Kajaan Aceh menyerang Portugis di Malaka. Namun, serbuan Demak itu mengalami kegagalan. Kegagalan serangan Demak itu tidak membuat Demak putus asa. Untuk itu, dilakukan penyerangan sekali lagi bersama Aceh dan Kerajaan Johor, tetapi tetap berhasil dipatahkan oleh Portugis. Hal ini sebab persenjatan orang-orang Portugis saat itu jauh lebih kuat dan lengkap.

Serangan Kerajaan Demak pada Portugis di Malaka
Pati Unus
Perjuangan Kerajaan Demak pada orang-orang Portugis tidak berheti sampai di situ. Kali ini, Kerajaan Demak selalu menyerang dan membinasakan setiap kapal dagang Portugis yang melewati jalur Laut Jawa. Karena itulah kapal dagang Portugis yang membawa rempah-rempah dari Maluku (Ambon) tidak melalui Laut Jawa, tetapi melalui Kalimantan Utara. Selain itu, upaya Demak untuk mengusir Portugis diwujudkan dengan ditaklukkannya Kerajaan Pajajaran oleh Fatahilah pada tahun 1527. Penaklukkan Pajajaran ini disebabkan Kerajaan Pajajaran mengadakan perjanjian perdagangan dengan Portugis, sehingga Portugis diperbolehkan mendirikan benteng di Sunda Kelapa. Ketika orang-orang Portugis mendatangi Sunda Kelapa (sekarang Jakarta), terjadilah perang antara Kerajaan Demak di bawah pimpinan Fatahilah dengan tentara Portugis. Dalam peperangan itu, orang-orang Portugis berhasil dipukul mundur. Kemudian, pelabuhan Sunda Kelapa diganti namanya oleh Fatahilah menjadi Jayakarta yang berarti kejayaan yang sempurna.

Meskipun Kerajaan Demak berhasil membendung masuknya pengaruh Portugis di Jawa Barat, tetapi gagal saat mencegah hubungan dagang antara Portugis dengan kerajaan-kerajaan Hindu di daerah Jawa Timur. Bahkan Sultan Trenggono dari tahun 1521 sampai dengan tahun 1546 yang memimpin langsung penyerangan itu gugur di Pasuruan, Jawa Timur.

Sumber : IPS Terpadu - SMP Kelas VIII

Kali ini kita akan membahas tentang Perkembangan Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia, serta Berbagai Pengaruh yang Ditimbulkannya. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Perkembangan Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia, serta Berbagai Pengaruh yang Ditimbulkannya

VOC yang semula hanya berbentuk sebagai kongsi atau perserikatan dagang, dalam praktiknya menjelma seperti pemerintah penjajah. Daerah-daerah di nusantara dalam waktu hanya dalam beberapa tahun berhasil diduduki VOC dengan kekerasan bersenjata dan tipu muslihat. Oleh sebab itu, di setiap daerah seperti Mataram, Banten, Ambon, Aceh, dan Makassar, banyak terjadi perlawanan rakyat pada dominasi VOC itu. Namun, sebab sifat perlawanan yang masih kedaerahan dan kesenjangan dalam persenjataan, akhirnya perlawanan rakyat itu dapat dilumpuhkan. Setelah perlawanan rakyat lumpuh, VOC memberlakukan sistem monopoli perdagangan dan turut mengatur sistem pemerintahan yang berlaku.

Perkembangan Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia, serta Berbagai Pengaruh yang Ditimbulkannya

Penjelajahan samudra untuk mencari daerah baru yang dilakukan bangsa Eropa sudah menjadi penjajahan atau kolonialisme. Kolonialisme adalah harapan suatu bangsa untuk menaklukkan bangsa lain dalam bidang politik, ekonomi, eksploitasi ekonomi, serta penetrasi kebudayaan. Apabila bangsa kolonial itu mempunyai berbagai koloni di daerah lain, dan berupaya menyatakan koloninya itu menjadi satu sistem usaha, maka usahanya itu dinamakan imperialisme.

Karena sudah terjadi kolonialisme dan imperialisme di tanah air, maka timbullah bermacam-macam bentuk perlawanan di bermacam-macam daerah. Di bawah ini diuraikan beberapa perlawanan rakyat pada kolonialisme yang dilakukan VOC dan Portugis di nusantara.