Wednesday, 9 September 2015

Kali ini kita akan membahas tentang Potensi Sumber Daya Alam Provinsi Riau. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Potensi Sumber Daya Alam Provinsi Riau

Potensi Sumber Daya Alam di Indonesia beragam di setiap provinsinya, Provinsi Riau yang merupakan salah satu dari 34 provinsi di Indonesia memiliki ragam sumber daya alam tersendiri, berikut penjelasannya.

 

 A. Energi dan Sumber Daya Mineral

Pada sektor pertambangan, terdapat minyak dan gas bumi, batubara. Jumlah produksi minyak bumi Riau mencapai 119.433.077,79 pada tahun 2014 sedangkan gas bumi sebanyak 14. 983.902,05 ribu MMBTU. Produksi minyak mentah ini terus mengalami penurunan tiap tahunnya sehingga perannya terhadap pertumbuhan ekonomi kian menurun. 

Hasil Pertambangan Provinsi Riau tahun 2012-2014
NO
JENIS
SATUAN
Tahun
2012
2013
2014
1.
Minyak Mentah (Crude Oil)
Barel
135.474.058
126.556.611,67
119.433.077,79
2.
Gas Bumi
Ribu MMBTU
5.716.756
10.960.321,71
14.983.802,05
3.
Batu Bara
Ton
1.885.042
2.057.139
N/A
Sumber: Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral, 2014

 
Potensi Sumber Daya Alam Provinsi Riau
Provinsi Riau

B. Lingkungan Hidup dan Tata Ruang

Pada tahun 2014, jumlah tanah yang bersertifikat bangunan atau gedung mengalami penurunan yang cukup drastis dibandingkan tahun 2012 dan 2013 baik sertifikat hak guna bangunan, hak milik maupun hak pakai. Sementara itu, jumlah tanah yang bersertifikat tanah pertanian/perkebuan/gedung mengalami peningkatan hanya pada bidang tanah saja sebesar 9 bidang sedangkan luas tanahnya juga mengalami penurunan dari 70.937.916 Ha pada tahun 2013 menjadi 53.623.580 Ha.
Kondisi Pertanahan di Provinsi Riau Tahun 2012-2014
No
Uraian
Tahun
Satuan
2012
2013
2014*
1
Jumlah Tanah Yang Bersertifikat Bangunan/Gedung
Hak Guna Bangunan
Bidang Tanah HGB
1.189
2.559
316
Bidang
Luas HGB
3.241.263
60.744.634
1.298.997
Ha
Hak Milik
Bidang Tanah Hak Milik
22.007
22.222
6.708
Bidang
Luas Tanah Hak Milik
79.831.793
324.997.605
17.491.168
Ha
Hak Pakai
Bidang Tanah Hak Pakai
72
75
70
Bidang
Luas Hak Pakai
1.757.566
17.552.930
458.297
Ha
2
Jumlah Tanah Yang Bersertifikat Tanah Pertanian/Perkebunan/Gedung
Hak Guna Usaha
Bidang Tanah HGU
1
5
9
Bidang
Luas Tanah HGU
1.486
70.937.916
53.623.580
Ha
Sumber: Kanwil Badan Pertanahan Nasional Provinsi Riau, 2014
* : Angka sementara

 

C. Perikanan

Secara umum, kondisi perikanan dan kelautan Provinsi Riau dalam tiga tahun terakhir cukup fluktuatif. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya hasil produksi industri pengolahan perikanan darat seperti karamba, kolam dan perikanan umum. Akan tetapi terjadi penurunan yang cukup signifikan pada produksi ikan tambak hingga 311,2 ton.
Industri Pengolahan Hasil Perikanan Darat
No
Jenis Kegiatan
Tahun
Satuan
2012
2013
2014*
1
Karamba
Karamba
42.479
41.036
2.844.467
Unit
Produksi Ikan Karamba
29.735
28.725
30.783,55
Ton
2
Kolam
Kolam Ikan
24.790,05
131.814,92
2.951,52
Ha
Produksi Kolam Ikan
38.462
45.284
50.895
Ton
3
Perikanan Umum
Rumah Tangga Perikanan
12.532
12.532
13.920
RTP
Produksi Ikan Perikanan Umum
16.068,60
17.096,10
18.434,10
Ton
4
Tambak
Tambak Ikan
488
503
498,16
Ha
Produksi Ikan Tambak
690,6
759,6
311,2
Ton
Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Riau, 2014
* : Angka sementara

Selain itu, dari segi industri pengolahan hasil perikanan laut, terjadi peningkatan hasil produksi yang cukup signifikan hingga mencapai 107.212 ton.
Industri Pengolahan Hasil Perikanan Laut
No
Uraian
Tahun
Satuan
2012
2013
2014*
1
Kapal Penangkap Ikan
12.603
12.444
12.023
Unit
2
Rumah Tangga Perikanan
14.823
14.503
14.596
KK
3
Tangkapan ( Perikanan laut dan budidaya)
95.611,03
79.160,51
107.212
Ton
Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Riau, 2014
* : Angka sementara

 

D. Perkebunan

Salah satu potensi unggulan daerah adalah sektor perkebunan yang meliputi kelapa sawit dengan produksi sebanyak 7.586.089 ton, kelapa sebesar 404.108 ton dan karet sebesar 305.728 ton.
Data Produksi Perkebunan Per Komoditi di Wilayah Provinsi Riau
No
Komoditi
Produksi (Ton)
2013
2014*)
1
Karet
354.257
305,728
2
Kelapa
364.751
404,108
3
Kelapa Sawit
7.570.854
7,586,089
4
Kakao
1.552
1,541
5
Kopi
2.603
1,845
6
Pinang
8.761
8,55
7
Sagu
126.145
133,936
Sumber : Dinas Perkebunan Provinsi Riau
*) angka proyeksi

 

E. Pertanian

Potensi pertanian di Provinsi Riau pada tahun 2014 cukup membaik dibandingkan pada tahun 2013. Hal ini dapat dilihat dari produksi pertanian utama yaitu padi, jagung dan kedelai. Meskipun produksi padi cendrung menurun dari 434.144 ton pada tahun lalu menjadi 385.475 ton pada tahun 2014. Akan tetapi produksi jagung dan kedelai cendrung meningkat masing-masing hingga 28.619 ton dan 2.334 ton diikuti oleh produksi kacang hijau dan ubi kayu.
Luas, Produksi dan Konsumsi Hasil Pertanian di Provinsi Riau Tahun 2012-2014
No.
Industri Pengolahan Hasil Pertanian
2012
2013
2013
Satuan
1
Padi
Areal Panen Padi
144.015
118.518
106.037
Ha
Produksi Padi
512.152
434.144
385.475
Ton
Produktivitas
35,56
36,63
36,35
Ku/Ha
Beras
321.324
272.382
241.847
Ton
Konsumsi Beras
621,377,23
641,929,66
Ton
2
Jagung
Areal Produksi Jagung
13.284
11.748
12.043
Ha
Produksi Jagung
31.433
28.052
28.619
Ton
Konsumsi Jagung
48,026,29
49.614
Ton
3
Kedelai
Areal Produksi Kedelai
3.686
1.949
2.032
Ha
Produksi Kedelai
4.182
2.211
2.334
Ton
Konsumsi Kedelai
23,716,69
24,501,13
Ton
4
Kacang tanah
Areal Kacang Tanah
1.723
1.325
1.191
Ha
Produksi Kacang Tanah
1.622
1.243
1.131
Ton
Konsumsi Kacang Tanah
11,858,14
12,250,57
Ton
5
Kacang Hijau
Areal Kacang Hijau
865
585
598
Ha
Produksi Kacang Hijau
920
619
645
Ton
Konsumsi Kacang Hijau
13,637,10
14,088,15
Ton
6
Ubi Kayu
Areal Ubi Kayu
3.642
3.863
4.048
Ha
Produksi Ubi Kayu
88.577
103.070
117.585
Ton
Konsumsi Ubi Kayu
84,194,24
86,929,02
Ton
7
Ubi Jalar
Areal Ubi Jalar
1.137
1.028
977
Ha
Produksi Ubi Jalar
9.424
8.462
8.008
Ton
Konsumsi Ubi Jalar
8,893,76
9,187,92
Ton
Sumber: Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Riau, 2014

Kali ini kita akan membahas tentang Cara Soekarno Melawan Amerika. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Cara Soekarno Melawan Amerika

Dinamika perpolitikan Indonesia di era perang dingin kurun waktu 1953-1963 pernah ditandai dengan aroma diplomasi cantik dan elegan, disertai dengan kebijakan para pemimpin yang tidak mau didikte dan tunduk pada Amerika. Meski saat itu negeri Indonesia baru merdeka dalam hitungan belasan tahun, semangat nasionalisme dan kecerdikan para pemimpinnya menjadikan negara Indonesia disegani oleh Amerika, Uni Soviet dan negara-negara Sekutu.

Bagaimana tidak, di tengah perseteruan perang dingin antara Amerika dan Uni Soviet, Indonesia, yang baru merdeka dalam hitungan belasan tahun, lewat kunjungan Soekarno ke Washington berhasil mendinginkan keadaan. Di sisi lain, melalui semangat nasionalisme tinggi dan kecerdikan diplomasinya, pemerintah Indonesia lewat diplomasi cantik dan ciamik Soekarno juga berhasil mempermainkan Amerika dan Uni Soviet dalam kasus pembebasan Irian Barat dari penjajahan Belanda.

Dengan menggunakan kartu Uni soviet, Soekarno menerapkan kebijakan luar negeri dengan metode gertak sambal, yaitu menakut-nakuti Amerika bahwa militer Uni Soviet akan membantu Indonesia dan akan memporak-porandakan Belanda, negara sekutu Abadi Amerika di tanah penjajahan Papua.

Berkat diplomasi Bung karno, Amerika tidak berkutik, John F Kennedy dengan sangat terpaksa memerintahkan Belanda untuk hengkang dari dan tanah Irian Barat. Papua lalu bebas dari penjajahan dengan tanpa jatuh korban dan peperangan. Sebuah permainan diplomasi cantik diperagakan oleh pemimpin Indonesia, dengan spirit nasionalisme tinggi dan sikap pemerintahan yang independen.

Buku karya Baskara Tulus Wardaya yang adalah disertasi di Universitas Marquette, Milwaukee, Wisconsin Amerika ini ingin menuturkan dinamika politik Indonesia di masa perang dingin 1953-1963, serta model kepemimpinan pemerintahan Indonesia yang anti pada hegemoni Amerika dan bagaimana kecerdikan Bung Karno mengambil kebijakan-kebijakan luar negerinya.

Sebagaimana dikisahkan oleh Baskara, landasan kepemimpinan Soekarno dibangun atas dasar nasionalisme, Islam dan Marxisme. Nasionalisme yang tumbuh dalam dirinya telah menanamkan rasa persatuan dan cinta Tanah Air sekaligus menjadikan dirinya menjadi proklamator dan presiden pertama Indonesia, sementara ideologi Marxisme yang dikembangkannya membuat dirinya mempunyai hubungan dekat dengan Uni Soviet dan menanamkan jiwa anti hegemoni dan imperialisme Barat.


Bersama pemerintahan Soekarno, kebijakan luar negeri Indonesia sangat disegani asing. Salah satu kebijakan luar negeri yang indah dan luar biasa dalam dinamika politik Indonesia di era pemerintahan Soekarno adalah peristiwa pembebasan tanah Papua dari penjajahan Belanda.

Cara Soekarno Melawan AmerikaPada masa itu, Soekarno memanfaatkan Uni Soviet yang saat itu sedang berseteru dengan Amerika, pada saat bersamaan posisi negara Belanda menjadi bagian dari Sekutu bersama Amerika dan Eropa. Soekarno melalui kekuatan diplomasinya membujuk Uni Soviet untuk membantu secara militer mengusir Belanda dari tanah Papua, dan keberhasilan diplomasi Soekarno ini disampaikan ke Pihak Amerika. Amerika yang saat itu tidak tega melihat sekutu abadinya luluh lantak oleh militer Uni Soviet, lalu memerintahkan Belanda untuk mundur dari pendudukannya di tanah Irian.

Proses diplomasi yang membuat Amerika gigit jari itu berlangsung demikian. Subandrio wakil perdana menteri yang pernah menjabat duta besar Moskow, diperintah olah Soekarno untuk meminta pertolongan militer kepada pemimpin Uni Soviet, Nikita Khrushehev, agar mengusir Belanda dari tanah Papua. Keberhasilan Subandrio melobi Nikita Khrushehev lalu disampaikan oleh Soekarno kepada Howard P Jones, duta besar Amerika di Indonesia. Informasi itu membuat John F Kennedy yang saat itu sedang menjabat sebagai presiden Amerika kalang kabut, sebab Kennedy tidak mau melihat Belanda porak-poranda dan babak belur akibat serangan militer Uni Soviet, dia memaksa Belanda untuk kabur dan hengkang dari tanah Papua. Tanah Papua pun bebas dari penjajahan Belanda dengan tanpa korban dan biaya pengeluaran untuk militer, dan militer Uni Soviet pulang tanpa menembakkan sebutir peluru pun sebab Belanda sudah hengkang saat kapal perang Uni Soviet sampai di perairan Indonesia.

Keberhasilan Soekarno mempecundangi Amerika tidak hanya dalam kasus pembebasan tanah Irian, pemerintahan di masa Soekarno juga berhasil menangkap basah penyusupan CIA di Maluku pada tahun 1958, yang menyamar sebagai pilot, dan lalu diadili secara tertutup. Padahal Amerika saat itu mendanai pemberontakan pemerintahan revolusioner Republik Indonesia dan perjuangan Semesta di Maluku.

Pencapaian negara Indonesia di era Soekarno ini seakan menunujukkan bahwa negara Indonesia pernah menjadi negara yang mempunyai kekuatan diplomasi yang cantik, dengan jiwa nasionalisme tinggi dan tidak pernah mau tunduk dan didikte oleh negara super power Amerika. Salah satu bukti nyata lain adalah dinamika politik Indonesia pada tahun 1948 ditandai dengan deklarasi politik bebas aktif, melawan Malaysia pada tahun 1963, dan keluar dari keanggotaan PBB pada tahun 1965.

Lewat buku ini rasanya Baskara ingin menunjukkan bahwa kepemimpinan Indonesia beberapa puluh tahun yang lalu pernah mempunyai rasa nasionalisme tinggi dan dengan gagah berani menentang hegemoni pihak asing. Sayangnya ruh kepemimpinan ala Soekarno ini tidak lagi kelihatan di masa sekarang, dan hanya tinggal kenangan.

Hal ini dibuktikan, bahwa praktis pasca presiden Soekarno, Indonesia berada dalam cengkeraman asing (Amerika), pemerintahan Orde Baru berada di bawah kendali Amerika, melalui lembaga-lembaga internasional-nya seperti IMF, Bank Dunia, USAID. Orde Baru mewarisi kebijakan jelek dan berlanjut hingga sekarang, tidak heran jika Indonesia di masa Orde Baru pernah dijuluki sebagai negara gagal atau failed state akibat strategi kebijakannya yang selalu tunduk pada Mafia Berkeley, dan Indonesia hanya menjadi negara kepanjangan tangan dari kepentingan global Mafia Berkeley lewat “Washington konsensus”. (Moh Yasin / PERADA, 21 Juli 2008 – Koran Jakarta)

Kali ini kita akan membahas tentang Pola Pemukiman Penduduk di Indonesia. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Pola Pemukiman Penduduk di Indonesia

Kondisi geografis suatu wilayah juga memengaruhi pola kehidupan penduduk yang lain, seperti pola permukiman, adat istiadat, dan pola keruangan hasil budaya manusia yang lain. Begitu pula di Indonesia, Kondisi geografisnya membentuk pola pemukiman penduduk menjadi bermacam-macam dari sabang sampai merauke. Dalam hal adat istiadat, kita tahu bahwa Indonesia adalah negara yang majemuk, misalnya dalam hal kesenian, tata pakaian, bentuk rumah, bahkan bahasa. Kenyataan adanya keanekaragaman itu tentu ada yang menyebabkannya, salah satunya adalah kondisi geografis negara Indonesia.

Letak negara Indonesia sebagai negara kepulauan menyebabkan keadaan di masing-masing tempat berbeda-beda. Misalnya kelebatan hutan, kesuburan tanah, tumbuh-tumbuhan, satwa yang ada, curah hujan, dan temperatur udara masing-masing tempat berbeda. Perbedaan keadaan seperti itu menyebabkan kehidupan penduduk mempunyai ciri yang khas untuk daerahnya. Hal ini disebabkan penduduk selalu berusaha menyesuaikan kehidupannya dengan keadaan alam sekitarnya.
Pola Pemukiman Penduduk di Indonesia


Contohnya bentuk rumah. Di daerah dataran rendah biasanya mempunyai bentuk rumah dengan lubang angin yang lebar di atas jendela. Bagian depan rumah ini biasanya terbuka dengan maksud agar peredaran udara dapat keluar masuk dengan lancar. Hal ini perlu agar rumah terasa sejuk, sebab pada daerah dataran rendah pada biasanya udaranya panas. Bandingkan keadaan itu dengan daerah lereng gunung. Mereka membuat rumah yang rapat tertutup, hanya sedikit lubang angin dengan maksud agar udara panas di dalam ruangan tetap bertahan, sehingga rumah terasa hangat.

Bukankah di lereng gunung udaranya dingin? Demikian juga rumah-rumah yang di sekitarnya banyak terdapat hutan lebat, sebab masih banyak terdapat hewan liar maka dibuatlah rumah berbentuk rumah panggung.

Bentuk Pola Pemukiman Penduduk Indonesia

Adapun pola keruangan permukiman penduduk Indonesia adalah sebagai berikut.

1. Pola permukiman mengelompok atau memusat
Pola permukiman ini dibangun memusat pada suatu titik, biasanya terdapat di sekitar gunung atau sumber-sumber air.

2. Pola permukiman memanjang
Pola permukiman memanjang biasanya terletak di sepanjang aliran sungai, jalan, atau sepanjang garis pantai.

3. Pola permukiman tersebar
Pola permukiman tersebar biasanya terdapat di daerah yang kurang subur, sulit sumber airnya, atau di daerah dengan kondisi geografis yang kurang menguntungkan.

Contohnya di daerah pegunungan karst atau di daerah yang mempunyai air tanah dalam. Keadaan geografis yang memengaruhi pola permukiman penduduk juga akan memengaruhi persebaran penduduknya. Pola persebaran penduduk dapat dipetakan dalam tiga jenis bentang alam yang layak digunakan sebagai tempat permukiman. Bentang alam itu adalah dataran rendah yang landai, kawasan pantai, dan dataran tinggi.

Pola pemukiman sesuai kondisi geografis di daerah yang kurang subur atau di dataran tinggi adalah?

 Pola pemukiman di daerah yang kurang subur atau di dataran tinggi biasanya dipengaruhi oleh kondisi geografis, iklim, dan sumber daya alam yang tersedia. Berikut ini beberapa ciri khas pola pemukiman di daerah tersebut:
  1. Pemukiman tersebar: Di daerah kurang subur atau dataran tinggi, lahan pertanian mungkin terbatas atau tidak efisien. Akibatnya, pemukiman cenderung tersebar dan jauh dari satu sama lain, karena penduduk mencari lahan yang lebih subur untuk bercocok tanam atau memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia.
  2. Pemanfaatan lahan secara optimal: Di daerah dengan kondisi geografis yang kurang subur atau di dataran tinggi, penduduk harus memanfaatkan lahan secara optimal. Mereka mungkin menggunakan teknik pertanian terasering untuk mengelola lahan di lereng bukit atau gunung, seperti yang terlihat di beberapa daerah di Indonesia, seperti Bali dan Jawa Tengah.
  3. Adaptasi terhadap kondisi iklim: Di dataran tinggi, suhu udara biasanya lebih dingin, dan curah hujan mungkin lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan dengan daerah dataran rendah. Penduduk di daerah ini harus menyesuaikan pola pemukiman mereka dengan kondisi iklim, seperti membangun rumah dengan bahan yang isolatif atau menggunakan atap yang mampu menahan beban salju di daerah bersalju.
  4. Pemukiman dekat sumber air: Sumber air merupakan kebutuhan pokok bagi manusia, sehingga pemukiman di daerah kurang subur atau dataran tinggi biasanya ditempatkan dekat dengan sumber air, seperti sungai, danau, atau mata air.
  5. Pemukiman di sekitar jalan atau jalur transportasi: Untuk memudahkan akses ke daerah lain dan mempermudah distribusi barang dan jasa, pemukiman di daerah kurang subur atau dataran tinggi cenderung berlokasi di sekitar jalan atau jalur transportasi, seperti jalan raya atau jalur kereta api.
Secara keseluruhan, pola pemukiman di daerah kurang subur atau di dataran tinggi ditentukan oleh kondisi geografis, iklim, dan ketersediaan sumber daya alam. Penduduk di daerah ini harus beradaptasi dengan kondisi lingkungan mereka untuk memastikan kelangsungan hidup dan kesejahteraan mereka.