Friday, 11 November 2016

Kali ini kita akan membahas tentang Pemberontakan Untung Surapati Melawan VOC. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Pemberontakan Untung Surapati Melawan VOC

Pangeran Purbaya, putra kedua Sultan Ageng Tirtayasa saat terjadi perang Banten menyingkir ke daerah Priangan bersama para pengikutnya. Di Priangan mereka mengobarkan perlawanan kompeni dengan pertolongan musuh-musuh kompeni yang berasal dari Makassar.

Dalam berjuang melawan VOC, Pangeran Purbaya menjalankan taktik pura-pura. Dia mengirimkan kabar ke Batavia yang menyatakan bahwa dirinya bersedia berdamai dengan VOC. Tentu saja kesediaan pangeran Purbaya ini diterima VOC dengan senang hati. Untuk melakukan perdamaian itu, VOC mengutus Surapati, seorang opsir VOC berkebangsaan Indonesia untuk berdamai dengan didampingi oleh Bupati Sukapura dan Demang Timbanganten. Selain mengutus Surapati, VOC juga mengirimkan utusan seorang opsir Belanda. Utusan ini mengemban perintah agar Surapati kembali ke Batavia. Selain itu, kepala pasukan VOC di Priangan juga mengirimkan utusan opsir Belanda yang pangkatnya lebih rendah dari Surapati. Oleh utusan itu, Surapati diperintahkan untuk tunduk. Tentu saja, Surapati merasa terhina, dan akhirnya Surapati menyerang laskar VOC hingga tunggang langgang. Surapati melarikan diri ke daerah Karawang, lalu mengembara ke daerah Priangan. Atas perlawanan Surapati itu, VOC mengerahkan pasukannya untuk menangkap Surapati. Surapati terus melanjutkan pengembaraannya hingga sampai ke Kartasura. Perginya Surapati ke Kartasura sebab ia mendengar kabar, bahwa Sunan Amangkurat II berselisih dengan VOC.

Di Mataram, Sunan Amangkurat II merasa berat dengan perjanjian yang dipaksakan dan ditandatangani oleh VOC. Oleh sebab itu, dia tidak mau menepati janjinya. Itulah sebabnya, saat Untung Surapati datang ke Kartasura, Sunan Amangkurat II menerimanya dengan tangan terbuka dengan harapan dapat diajak bekerja sama menentang VOC.

Berita kehadiran Surapati ke Kartasura terdengar Belanda. Untuk itu, VOC berniat menangkap Untung Surapati. VOC lalu mengutus Kapten Tack beserta 150 anak buahnya. VOC meminta Sunan Amangkurat II agar menyerahkan Surapati, tetapi pasukan VOC ditumpas habis. Kapten Tack sendiri terbunuh dalam peristiwa itu. Untung Surapati menyadari bahwa VOC akan membalas kematian laskarnya. Untuk itu, dia menyingkir ke Pasuruan. Di sana dia diangkat sebagai Adipati Pasuruan dengan gelar Adipati Wiranegara.

Pemberontakan Untung Surapati Melawan VOC
Untung Surapati
Tahun 1708, Sunan Amangkurat II meninggal, dia digantikan oleh putranya bernama Sunan Mas yang bergelar Sunan Amangkurat III yang bertahta dari tahun 1703-1708. Pergantian Sunan Amangkurat II oleh Sunan Mas ternyata tidak direstui pamannya sendiri, Pangeran Puger. Dia menginginkan dapat menggantikan kakaknya Sunan Amangkurat II menjadi sultan di Mataram.

Oleh sebab Sunan Amangkurat III tetap menunjukkan ketidaksenangannya kepada VOC, dalam perikatan keluarga itu VOC memilih berpihak kepada Pangeran Pugar. Dengan sombongnya, pada tahun 1709, VOC menobatkan Pangeran Pugar menjadi Sultan Mataram dengan gelar Pakubuwono I yang berkuasa dari tahun 1705 sampai dengan tahun 1719, setelah terlebih dahulu Pangeran Pugar mengadakan perjanjian dengan VOC. Adapun isi perjanjian itu ialah sebagai berikut.
  1. Seluruh daerah Priangan dan bagian timur Madura, serta Cirebon diserahkan kepada VOC
  2. Sunan dibebaskan dari semua utang-utangnya terdahulu, dan sebagai gantinya sunan wajib menyerahkan 800 koyan beras setiap tahunnya selama 25 tahun kepada VOC
  3. VOC akan menempatkan pasukannya untuk melindungi Sunan
Sunan Amangkurat III yang ditolong oleh Untung Surapati akhirnya berperang dengan Pakubowono I. Sementara, Pakubuwono I ditolong oleh VOC. Dalam pertempuran itu, Untung Surapati meninggal. Perjuangan Untung Surapati selanjutnya diteruskan oleh kedua putranya hingga titik darah penghabisan.

Sumber : IPS Terpadu - SMP Kelas VIII

Kali ini kita akan membahas tentang Perlawanan Trunojoyo Melawan VOC. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Perlawanan Trunojoyo Melawan VOC

Trunojoyo adalah Adipati Madura yang tidak menyukai kepemimpinan Sunan Amangkurat I yang memihak Belanda. Oleh sebab ketidakpuasannya itu, Trunojoyo mengadakan pemberontakan yang dimulai dari Madura, terus ke Jawa Timur hingga ke daerah sekitar Jawa Tengah. Karena begitu dahsyatnya serangan Pasukan Trunojoyo, akhirnya Keraton Mataram berhasil diduduki dan Sunan Amangkurat I bersama putra mahkota melarikan diri. Oleh Trunojoyo semua harta dan barang pusaka keraton diangkut ke Kediri sebagai pusat perlawanan Trunojoyo.

Secara berturut-turut laskar Trunojoyo berhasil dalam menaklukkan Lasem, Rembang, dan Jepara. Namun, karena kota ini dilindungi oleh VOC-Belanda, pasukan Madura keluar dari Jepara. Nampaknya Trunojoyo tidak ingin berperang dengan VOC, dimana hal ini berlaku pula untuk kota Kudus. Selanjutnya, Demak jatuh pada tanggal 11 Desember 1676, dimana kurang lebih 11.000 pasukan Mataram meninggalkan Demak akibat kekurangan pasokan bahan pangan. Lalu pada 24 Oktober 1676, Laskar Madura telah masuk dan membakar kota Semarang.

Adipati Semarang Nayacitra melarikan diri, sementara itu, bawahannya Astrayuda, menyebrang ke pihak musuh. Dan menjelang pergantian tahun, sebuah kapal Cirebon memberi tahu bahwa Laskar Madura sudah merebut Pekalongan.4 Pada akhir Februari 1677, VOC menekan persekutuan Wangsadipa yang bertindak atas nama susuhan Amangkurat I. VOC berjanji melindungi Susuhan Amangkurat I dari semua musuh yang tidak terikat perjanjian damai dengan VOC. Sebagai imbalanya atas apa yang dilakukan terhadap Mataram, VOC akan dibebaskan dari pajak lalu lintas barang. Bebas mengimpor dan mengekspor komoditas apapun. Bebas mendirikan pos dagang di manapun, termasuk diberi keleluasaan menggunakan kayu dan tenaga kerja manusia Mataram sebanyak yang dibutuhkan. Sebaliknya Mataram dilarang mengadakan hubungan dagang dengan pihak Makasar, Melayu dan Moor (kaum Muslim non-Indonesia).

Trunojoyo pada bulan April 1677 memberitahukan kepada utusan VOC-Belanda bahwa separuh wilayah Mataram telah ditaklukkan olehnya dan bersiap untuk melakukan penyerangan ke ibukota Mataram di Plered. Pasukan Trunojoyo berhasil mengalahkan pasukan Mataram di bawah pimpinan Adipati Anom yang berbalik mendukung ayahnya pada bulan Oktober 1676. Dan kemudian berhasil menyerbu Ibukota Mataram, Plered. Kemudian Amangkurat I terpaksa melarikan diri dari keratonnya dan berusaha menyingkir ke arah barat, akan tetapi dalam pelariannya kondisi kesehatan Amangkurat sendiri sedang menurun. Setelah terdesak ke Banyumas kemudian ke Ajibarang dan Wonoyoso, ia akhirnya meninggal di daerah Tegalwangi (sebelah selatan Tegal). Sesudahnya Susuhan Amangkurat I kemudian juga dikenal dengan julukan Sunan Tegal Arum.
Perlawanan Trunojoyo Melawan VOC
Trunojoyo
Pelarian Sunan Amangkurat I bersama putranya memiliki tujuan mencari pertolongan VOC. Namun, dalam perjalanannya menuju Batavia, Sunan Amangkurat I meninggal dunia di Tegal Arum pada tahun 1677. Kemudian, dia diganti oleh putranya yang bergelar Sunan Amangkurat II. Dengan demikian, sejak tahun 1677 Kesultanan Mataram diperintah oleh Sunan Amangkurat II. Segera mengadakan perjanjian dengan VOC mau menolong memadamkan pemberontakan Trunojoyo. Isi perjanjian itu seperti berikut.
  1. VOC bebas berdagang di mataram, dan bebas dari kewajiban membayar pajak pelabuhan.
  2. Karawang dan sebagian daerah Priangan yang berada di bawah kekuasaan Mataram diserahkan kepada VOC. Adapun yang menjadi batas wilayah Mataram dangan VOC adalah Sungai Cimanuk.
  3. Daerah Semarang dan sekitarnya diserahkan kepada VOC.
  4. Semua daerah pantai utara Jawa diserahkan kepada VOC selama Sunan Amangkurat II belum melunasi biaya perang. 
Atas pertolongan VOC, akhirnya Sunan Amangkurat II berhasil memadamkan pemberontakan Trunojoyo tahun 1680. Setelah ibu kota Mataram dipindahkan dari Plered ke Kartasura.

Sumber : IPS Terpadu - SMP Kelas VIII

Kali ini kita akan membahas tentang Perlawanan Rakyat Kesultanan Banten Melawan VOC. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Perlawanan Rakyat Kesultanan Banten Melawan VOC

Sekitar abad ke-16, Kesultanan Banten sudah berkembang menjadi kerajaan yang besar dan berpengaruh. Wilayah kekuasaannya meliputi sekitar Banten, Jayakarta, sampai ke Lampung. Kebesaran Kerajaan Banten, tidak terlepas dari dikuasainya Selat Malaka oleh Portugis. Para pedagang Islam yang semula berlayar melalui Selat Malaka tidak mau lagi berlayar melalui selat itu. Mereka lebih memilih berlayar melalui Selat Sunda. Hal ini menyebabkan Banten menjadi bandar perdagangan.

Namun, setelah jatuhnya Jayakarta ke tangan VOC tahun 1619, hal itu membawa akibat jelek bagi Kesultanan Banten. Pelayaran dan perdagangan Kesultanan Banten secara perlahan- lahan mengalami kemunduran. Setiap kapal dagang yang berlayar melalui Laut Jayakarta selalu diperiksa dan dipaksa berlabuh di Jayakarta, terlebih lagi setelah jatuhnya Selat Malaka ke tangan VOC tahun 1641.

Ketika Sultan Ageng Tirtayasa memerintah Banten (1651-1682), Kesultanan Banten sedang berada dalam kemunduran. Untuk itu, Sultan Ageng Tirtayasa berusaha memulihkan kejayaan Banten. Langkah yang dilakukannya ialah dengan menjalankan perdagangan bebas. Para pedagang yang mau berlabuh di pelabuhan Banten diberikan keringanan pajak dan jaminan keamanan. Untuk itu, sejak Sultan Ageng Tirtayasa memerintah Banten, pelabuhan Banten kembali ramai dikunjungi oleh para pedagang, baik dari nusantara atau luar negeri, seperti Portugis, Inggris, Perancis, dan Denmark. Terlebih setelah jatuhnya Makassar ke tangan VOC tahun 1667, banyak pelaut dan pedagang Makassar yang berniaga dan singgah di Banten. Sultan Ageng giat membangun perniagaan rakyat Banten, dengan memajukan armada dagang. Untuk itu, dibangunlah armada dagang Banten yang besar, sehingga mampu melaksanakan perniagaan dengan negara-negara lain, seperti Persia, Arab, dan Cina.

Perlawanan Rakyat Kesultanan Banten Melawan VOC
Sultan Ageng Tirtayasa
Kemajuan Banten adalah ancaman tersendiri untuk VOC, sebab Banten memberlakukan perdagangan bebas. Sebaliknya, bercokolnya VOC di Jayakarta adalah batu perintang yang besar untuk Banten. Hal ini sebab kapal-kapal dagang yang akan berlabuh di Banten selalu diganggu oleh pelaut-pelaut VOC. Oleh sebab itu, antara Banten dan VOC terlibat perang dingin dan saling mencari waktu yang tepat untuk menyerang. Namun, saat di Jawa Tengah dan Jawa Timur (Kesultanan Mataram) sedang melaksanakan perlawanan yang dipimpin Trunojoyo, Sultan Ageng tidak menggunakan kesempatan untuk menghancurkan kedudukan VOC di Jayakarta. Padahal kedudukan VOC saat itu sangat lemah.

Sebaliknya, VOC lebih pandai memanfaatkan kesempatan yang terbuka. Ketika di Banten terjadi pertentangan antara Sultan Ageng dan Sultan Haji anaknya, secara diam-diam VOC menjalin hubungan dengan Sultan Haji. Tentu saja hal ini menimbulkan keberanian untuk Sultan Haji untuk itu, Sultan Haji tidak segan- segan berperang dengan Sultan Ageng ayahnya sendiri dan adik-adiknya dengan pertolongan persenjataan dari VOC. Akhirnya, Sultan Ageng kalah dan turun tahta. Selanjutnya, Kesultanan Banten diperintah oleh Sultan Haji yang didukung oleh VOC. Sebagai imbalan atas pertolongan yang diberikannya, VOC menuntut Sultan Haji menandatangani perjanjian yang sangat merugikan rakyat Banten. Secara ringkas isi perjanjian itu sendiri seperti berikut.
  1. Bangsa Inggris tidak boleh berniaga di Banten, sebab waktu itu Inggris sering berlabuh dan berniaga di Banten.
  2. Perdagangan Banten terutama ekspor lada dimonopoli oleh VOC.

Sejak perjanjian itu ditandatangani pada tahun 1682, Kesultanan Banten sudah kehilangan kedaulatannya. Sultan Haji yang memerintah tidak lebih dari boneka yang menjalankan semua kebijakan VOC dan Banten terus membara.

Kesultanan Banten diperintah oleh Sultan Zainul Arifin pada tahun 1733 yang sangat dipengaruhi istrinya, yaitu Ratu Fatimah Syarifah, yang sangat populer di kalangan VOC. Pada saat itu Sultan Zainul Arifin mengangkat putranya Pangeran Gusti menjadi putra mahkota dengan persetujuan VOC, tetapi pengangkatan ini tidak berkenan untuk Sang Ratu. Ratu Fatimah menghendaki menantunya, Pangeran Syarif Abdullah menjadi putra mahkota. Sultan Zainul Arifin yang dipengaruhi istrinya mengalah dan berniat mencabut kembali pengangkatan Pangeran Gusti yang sudah dilakukannya. Untuk itu, Sultan Zainul Arifin meminta persetujuan VOC.

Memperoleh perlakuan seperti itu, tentu saja Pangeran Gusti tidak menerima. Dia kemudian menyingkir ke Batavia, tetapi atas desakan Ratu Fatimah Syarifah, Pangeran Gusti oleh VOC dibuang ke Sailan (Srilangka). Sementara itu, Sultan Zainul Arifin ditangkap oleh VOC, dengan tuduhan tidak waras (gila), lalu diasingkan ke Ambon. Sebagai pengganti Sultan Banten diangkatlah Ratu Fatimah Syarifah. Atas jasa menggulingkan Sultan Zainul Arifin dan Pangeran Gusti ini,VOC mendapat imbalan berupa tanah di sekitar Cisadane, serta hak atas penambangan emas di Lampung.

Rakyat Banten tidak menerima kepemimpinan Ratu Fatimah Syarifah, sehingga akhirnya meletus pemberontakan Banten yang dipimpin oleh Ki Tapa dan Ratu Bagus Buang. Pasukan Ki Tapa dan Ratu Bagus Buang menyerang ibu kota Banten dan mengepung istana, sehingga pasukan VOC kewalahan. VOC menyadari bahwa meletusnya perlawanan rakyat sebab ketidaksenangannya pada kepemimpinan Ratu Syarifah dan Pangeran Syarif. Untuk itu, VOC menangkap Ratu Syarifah dan Pangeran Syarif dengan maksud untuk mengambil hati rakyat Banten. Meskipun keduanya sudah ditangkap, tetapi perlawanan rakyat Banten terus berlanjut.

Pasukan Ki Tapa terus bertempur mengusir VOC dari Banten. Namun, akhirnya, perlawanan Ki Tapa ini pun berhasil dilumpuhkan oleh VOC. Ki Tapa dan Ratau Bagus Buang menyingkir dan meneruskan perlawanannya di daerah Bogor dan Banten selatan.

IPS Terpadu - SMP Kelas VIII